Mempunyai teman khayalan

01 Juni 2019| Super Administrator| Tags:

Tulisan ini dibuat saat saya berada diterminal menunggu kedatangan bus untuk mengantar saya ke pulau seberang.

Ternyata saya datang terlalu cepat sejam dari jadwal bus seharusnya. Ya sudah, akhirnya saya membaca artikel sejenak untuk menunggu kehadiran bus yang didambakan.

Menarik saya membaca sebuah artikel blog dari mark manson si penulis buku terkenal berjudul The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Sebuah buku yang dari dulu ingin saya beli namun belum terwujud. Tapi setidaknya saya masih penasaran dengan gaya kepenulisan si mark ini.

Yang saya suka dari cara menulis si mari ini bahasanya begitu lugas, tak jarang segi penyampaian kalimatnya pun terkesan berani dan begitu kontra dari kesan sopan. Opini saya sih, boleh setuju boleh tidak.

Salah satu artikelnya berjudul uncomfortable truth yang bila di terjemahkan mungkin artinya kenyataan yang pahit atau kenyataan yang tak nyaman ????????.

Di  intro artikel menjelaskan kenyataan bahwa sebenarnya mungkin saja hidup kita tak berarti. Bayangkan bila kita hidup hanya untuk menjalani siklus yang tak berarti. Lahir, sekolah, bekerja, mati.

Bagaimana bila kenyataanya bila Kita mati semua akan berakhir tanpa ada akhirat,neraka, ataupun surga.Yup, sebuah kenyataan yang tak nyaman.

Bagian awal dari artikel itu memberikan rasa skeptis terhadap hidup. Mark membawakan kesan suram terhadap hidup ini. Mungkin kalau anda hanya membaca 4 paragraf pertama, anggapan pertama anda terhadap mark mungkin penulis yang bukan inspiratif.

Namun bila melanjutkan membaca artikel itu, setelah mark memberikan rasa keputus asaan di awal paragraf, mark lalu memberikan sebuah tulisan konstruktifnya.

Yah waktu di Sekolah dasar Kita biasa belajar lawan dari sebuah kata. Kalau anda ditanya oleh guru anda apa lawan kata dari bahagia.

Dari artikel itu mark memberi penjelasan bahwa lawan dari bahagia bukanlah kemarahan atau kesedihan. Terlihat dari paragraph berikut :

No,the opposite of happiness is hopelessness, an endless gray horizon of resignation and indifference.3 It’s the belief that everything is fucked, so why do anything at all?

Yup, ternyata lawan dari kebahagiaan adalah hopeless atau keputus asaan. Karena mark beranggapan bahwa kesedihan itu adalah bentuk kekecewaan karena kenyataan tak sesuai harapan. Namun saat Kita merasa sedih seringnya kita masih berharap suatu keajaiban agar keadaan menjadi lebih baik.

Karenai ituselama masih ada harapan, maka kesedihan bukanlah lawan dari kebahagiaan. Depresi pun juga bukanlah lawan dari kebahagiaan karena di balik rasa depresi ataupun stress Kita masih memikirkan sebuah harapan.

Hopeless adalah lawan dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Merasa hopeless artinya kita sudah melewati fase depresi atau kesedihan dan jatuh ke perasaan negatif selanjutnya. Yakni keputusasaan atau pasrah saja dan tak memikirkan harapan sedikit pun.

Inilah yang di maksud mark,bila Kita sudah merasa hopeless,artinya Kita sudah berada di dasar jurang sebuah perasaan negatif. Hopeless adalah akar dari sebuah kecanduan dari segala Hal negatif. Dan kata mark itu memang fakta, hopeless adalah perasaan hina yang harus segera Kita atasi. Seperti yang dia katakan pada paragraph berikut.

Hopelessness is the root of anxiety, mental illness, and depression. It is the source of all misery and the cause of all addiction. This is not an overstatement.4 Chronic anxiety is a crisis of hope. It is the fear of a failed future. Depression is a crisis of hope. It is the belief in a meaningless future. Delusion, addiction, obsession—these are all the mind’s desperate and compulsive attempts at generating hope one neurotic tick or obsessive craving at a time.5

Bila Kita sudah berada dalam perasaan hopeless, mark memberi saran bahwa Kita harus segera membangun kembali harapan. Salah satunya dengan punya sebuah teman khayalan yang motivatif.

Sebenarnya apa yang di katakan mark bagi Kita umat beragama adalah kita tetap berpegang teguh pada tuhan. Dan kata lainnya adalah tetap optimis.

Mark bercerita pada artikel itu bahwa kakeknya meninggal dunia. Dan dia hidup dengan kepercayaan dia harus membuat bangga kakeknya walaupun kakeknya sudah mati.

Disitulah mark membuat sebuah teman khayalan berupa kakeknya seolah arwahnya senantiasa mengawasi dan berbincang terhadap semua yang mark lakukan.

Mark merasa punya sosok yang senantiasa menjaganya di dalam track kesuksesan. Yaitu arwah kakeknya. Mungkin terdengar irasional. Tapi itulah yang Kita butuhkan untuk menjaga dari kenyataan yang tak nyaman ????????????????

Konsep seperti ini menurut saya sama saja dengan Kita percaya kepada tuhan dan melakukan ibadah untuk menjaga perasaan Kita dari keputusasaan yang salah.

Sekian dulu tulisan saya kali ini. Semoga bisa di lanjutkan nanti, hehe

Tinggalkan Komentar

 

SO WHAT YOU THINK ?

Semoga artikel tadi bisa membawa inspirasi kepada Anda

Contact With Me